Ikhlas, satu kata tetapi mempunyai makna dan cerita yang begitu
banyaknya. Masing-masing orang memiliki definisi tersendiri mengenai
kata ini. Memang, yang penting bukan katanya tetapi bagaimana kita
memahaminya lalu mengamalkannya dalam kehidupan sehari. Tanpa itu, kata
tetaplah hanya sebuah kata yang tidak memiliki pengaruh apa-apa.
Saya
akan lebih memfokuskan makna ikhlas kali ini kepada ikhlas dalam hal
kehilangan. Pernahkah kalian mengalami yang namanya kehilangan? Pasti
pernah dong. Mungkin kehilangan barang kesayangan, kehilangan uang,
atau bahkan kehilangan sanak keluarga yang sangat disayangi. Bagaimana
rasanya? Tentunya sakit di hati. Rasa penyesalan dan kesedihan yang
kemudian muncul mengiringi proses kehilangan tersebut. Hanya saja
seberapa dalam kita bersedih dan seberapa lama kita menyesal bias
menjadi salah satu tolok ukur tingkat keikhlasan kita atas kehilangan
tersebut.
Tapi bukan berarti orang yang kehilangan tetapi tidak
bersedih maka berarti dia sangat ikhlas. Belum tentu juga. Justru
dipertanyakan apakah emosi orang tersebut masih normal atau tidak.
Adalah sebuah kewajaran jika kita bersedih atas kehilangan yang menimpa
diri kita. Ada rasa tidak rela yang sesaat muncul setelah kehilangan
itu terjadi.
Lalu, bagaimana sebenarnya kita menerapkan
sikap ikhlas dalam hal ini? Kalo saya ibaratkan bahwa ikhlas dalam hal
kehilangan itu seperti tukang parker. Lho, apa hubungannya? Harus kita
pahami bahwa segala apa yang ada dalam diri kita ini sebenarnya bukan
milik kita. Ia adalah barang milik Allah Swt yang dititipkan kepada
kita di dunia. Artinya, sesuai hokum pinjam meminjam maka jika barang
titipn tersebut diambil oleh si empunya maka kita harus rela
memberikannya.
Seperti tukang parkir, ia dititipi mobil atau
motor atau sepeda. Ia dengan sabar menjaga barang tersebut. Bahkan jika
perlu ia merapikan kedudukannya supaya ringkas. Suatu saat jika
pemiliknya kembali lalu meminta kembali motor atau mobil atau
sepedanya, si tukang parkir tidak nggrundel sama sekali. Ia rela
menyerahkannya kembali kepada pemiliknya.
Tukang parkir hanya
diberi imbalan Rp 500 atau paling banyak Rp 5000, dan ia tidak menyesal
barang titipannya diambil. Sementara Allah member imbalan surge atas
titipan barang yang diberikan kepada kita. Maka tidak ada alasan untuk
tidak rela apalagi menyesal yang berlebihan jika barang tersebut
diambil olehNya. Jika kita bias memahami makna kehilangan maka kita
bias memberikan sikap yang tepat. Tak ada yang abadi di dunia ini,
semua pasti ada tanggal kadaluwarsanya. Sampai saat itu tiba, kita
harus benar-benar menjaga barang-barang yang dititipkan kepada kita.
Berharap Sang Pemilik Yang Maha Memiliki memberikan imbalan berupa
surga yang kekal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar